Perbandingan Antara Kebudayaan Mesir dan Jawa
Istilah ” kebudayaan” atau culture dapat dedefinisikan sebagai ” keseluruhan cara hidup yang mencakup cara bertindak, berkelakuan dan berfikir serta segala hasil kegiatan dan penciptaan yang berupa kebendaan atau kerohanian suatu masyarakat”. Republik Arab Mesir dan wilayah Jawa memiliki kebudayaan yang luhur and bersejarah.Tentu kini terdapat kesamaan dan juga perbedaan antara kedua budaya tersebut. Aspek-aspek kebudayaan yang akan menjadi bahan perbandingan disini adalah: struktur masyarakat, etika, gaya bahasa, dan gaya hidup.Namun, sebelum melakukan perbandingan tersebut, hendaklah sang pembaca mengatahui beberapa informasi tentang Mesir sebagai latar belakang.
Aspek-aspek Perbandingan:
1- Struktur Masyarakat
- Keagamaan: Di kalangan umat Islam, ada tiga golongan yaitu: Muslim awam/KTP, moderat (termasuk Sufis dan Sekularis), dan radikal. Sementara, di kalangan Kristen terdapat tiga golongan yaitu Orthodoks, Katholik, and Protestant. Hubungan antara semua golongan agama damai dan jarang terjadi ketegangan berbasis agama.[ sama dengan budaya Jawa]
- Ekonomi: Di desa rata-rata orang adalah petani,pelaut, sementara di kota rata-rata orang adalah pegawai dan wiraswasta.Biasanya kemiskinan lebih banyak di masyarakat desa sehingga tidak sedikit orang desa yang pindah ke kota.[ sama dengan budaya Jawa]
- Kekhusuan: Secara garis besar, masyarakat Mesir beranega ragam sukunya meskipun bahasanya dan gaya hidupnya sama.Hanya saja suku Nubia dan Berber yang punya bahasa sendiri. Orang Mesir tetap mempertahankan sistem marga sehingga biasanya anak diwajibkan hafal silsilahnya paling tidak sampai buyut. Sistem keluarga adalah patriaki yaitu anak ikut nama ayahnya bukan ibunya.Sistem tersebut memperbolehkan seorang putra yang sudah nikah tetap tinggal bersama orang tua kalau belum punya rumah sendiri, tapi tidak lazim tinggal di rumah mertua.Hubungan antar suku dan marga rata-rata damai.[ agak beda dari budaya Jawa]
suku Nubia suku Berber
- Politik: Rata-rata warga mendukung partai NDP (National Democratic Party = al-hizb al-watani ad-dimuqrati) yang berkuasa. Disamping partai tersebut, ada juga Partai Al-Wafd, Partai Al-Ghad, Partai Komunis, Partai Sosialis, Partai Buruh, Partai Al-Ahrar, dll. Tidak ada partai berasaskan agama. Oleh karena itu, negara Mesir melarang al-Ikhwanul Muslmin untuk mendirikan partai.Sekarang masyarakat banyak yang tidak perhatikan masalah-masalah politik termasuk pemilihan umum. [ hampir sama dengan budaya Jawa]


http://images.google.com/imgres?imgurl=http://www.africanevents.com/images/NDPParetyMmbrs-ndpl-5.jpg


http://images.google.com/imgres?imgurl=http://www.africanevents.com/images/NDPParetyMmbrs-ndpl-5.jpg
2- Etika
Ada beberapa etika yang sama antara semua orang Mesir terlepas dari suku, provinsi maupun agama, diantaranya contoh-contoh ini:
- Seseorang yang punya anak biasanya dipanggil dengan ” ya abu/ummu…” = ” wahai ayah/ibu si…” [ agak beda dari budaya Jawa]
- Orang memperkenalkan diri dengan menyebut nama pribadi plus nama ayah. [ beda dari budaya Jawa]
- Untuk memanggil orang lain secara formal dan dengan hormat, ada beberapa sebutan yang lazim dipakai seperti: ” ya hadhrit” ” ya ustaz /ya ustazah” ” ya sheikh” ” ya basymuhandis/ah” ” ya basha/ hanim” “ya muhtaram” ” ya kaptin” ” ya rayyis”” ya akh” ” ya madam/ sitti/ Anisah” ” ya ‘am” ” ya baba”. [ hampir sama dengan budaya Jawa]
- Tidak boleh menyebut nama orang plus nama ibunya kecuali dalam konteks tertentu. [ agak beda dari budaya Jawa]
- Tidak sopan kalau ada orang yang lewat sementara orang yang duduk masih duduk bersila.[hampir sama dengan budaya Jawa]
- Sangat tidak sopan kalau pemuda-pemudi yang belum nikah berkencan di tempat umum, sehingga mereka langsung ditegur oleh masyarakat. [ agak beda dari budaya Jawa]
- Kalau naik kendaraan umum bersama teman atau kerabat, tidak lazim kalau bayar sendiri-sendiri; lazimnya ada satu pihak yang traktir kecuali kalau kebetulan tidak punya uang cukup.[ agak beda dari budaya Jawa]
- Tidak boleh merokok atau menyetel lagu di masjid. [ beda dari budaya Jawa]
- Tidak sopan duduk sementara orang yang lebih tua masih berdiri. [ sama dengan budaya Jawa]
- Musim mudik rata-rata pada lebara Idul-Adha dan boleh juga pada Idul-fitri. Selazimnya anak kecil dikasih uang baru dan oleh-oleh. [hampir sama dengan budaya Jawa]
- Pengantin baru dari kalangan kerabat atau tetangga atau teman lazim dikasih sumbangan uang pada hari kedua setelah acara pernikahan. [ hampir sama dengan budaya Jawa]
- Tidak lazim pakai bahasa formal atau resmi dalam kehidupan sehari-hari. Yang lazim dipakai adalah bahasa gaul saja. Bahasa gual tersebut tidak memiliki tingkatan-tingkatan kecuali dalam beberapa kata yang sepadan dengan ” kamu” ” anda” ” jenengan”. [ agak beda dari budaya Jawa]
- Pada bulan Ramadhan, orang non-Muslim menhormati orang Islam dengan tidak makan atau minum di tempat umum. [ sama dengan budaya Jawa]
- Setiap putri selazimnya belajar masak dan mencuci untuk membantu keluarganya. [ hampir sama dengan budaya Jawa]
- Kalau ada yang meninggal, tidak sopan terdengar suara musik atau TV yang keras di rumah tetangga selama tiga hari minimal. [ agak sama dengan budaya Jawa]
- Orang yang bersalah bisa minta maaf dengan mencium kepala orang yang disalahi. [ beda dari kebiasaan Jawa]
- Gadis-gadis, terutama di desa, masih tidak lazim pakai sepeda atau sepeda motor. [ beda dari kebiasaan Jawa]
3- Gaya Bahasa
- Orang Mesir suka pakai banyak bahasa isyarat saat bercakap. Contohnya, mengumpulkan semua jari tangan kanan dan menggerakkanya ke atas dan bawah- itu artinya ” tunggu sebentar”. Menunjukkan kedua mata sendiri, artinya ” OK, dengan senang hati”.Mencium telapak tangan dan belakangannya jika menerima uang atau keuntungan artinya ” alhamdulillah”. [ dalam hal ini beda dari kebiasaan Jawa]
- Orang Mesir suka basa-basi dalam tutur kata merika. Contohnya, jika kita bayar jasa atau barang tertentu , orang yang terima bayaran selazimnya berkata ” khalli”=” nggak usah bayar” padahal itu cuma basa-basi. Contoh lain, kalau kita ditanya ” aslinya mana?/ mineen?”, setelah kita jawab, orang lain selazimnya bilang ” ahsan naas= memang orang dari situ baik-baik semua”. [ hampir sama dengan budaya Jawa]
- Orang Mesir suka pakai pantun dan peribahasa dan lelucon dalam percakapan mereka. Contohnya ” yom lik wi yom ‘alek ” = ” kadang-kadang hidup ini enak kadang-kadang susah” . [ sama dengab budaya Jawa]
- Kalau marah, kadang-kadang orang Mesir megutarakan makian seperti ” ya ibn al-kalb”,” kussumak” ” ahhah”, dll. Kalau mereka dizalimi sementara tidak sanggup balas dendam, mereka beroa agar malapetaka ditutunkan kepada yang yang zalim.[ hampir sama dengan budaya Jawa]
- Setiap kejadian sosial, seperti kelahiran, kematian, pernikahan dll., ada kalimat tertentu yang lazim diutarakan oleh tamu maupun oleh yang bersangutan. Contohnya,” alf mabruk”= ” selamat” lazim dipakai untuk menunjukkan turut bahagia, dan jawabannya yang lazim adalah ” ‘u’balak= semoga anda juga selalu dapat kebahagiaan” . [ hampir sama dengan kebiasaan Jawa]
4- Gaya hidup
- Dalam Hal Makan-Minum:
Di Mesir ada beberapa jenis masakan dan minuman yang khas. Di antara masakan yang khas: kushari, fuul, ta’miyyah, ruzzi-bil-laban, mulukhiyyah, shawirmah, kuftah, kabab, ‘ads, misakka’ah, mahshi. Roti ‘esh lazim dicelupkan dalam masakan-masakan tertentu kemudian dimakan.Nasi dimakan sebagai alternatif dari roti ‘esh. Manisannya seperti : kunafah, qatayif, mahallabiyyah, basbusah. Adapun minumannya: qamariddin, shai-bin-ni’na’ (teh dengan mint), susu kerbau, shai-bil-laban (teh dengan susu), Sahlab, Jus tebu, karkadeh (rosella), hilbah (finugreek), dll.
Orang Mesir tidak makan daun bayam, daun kemangi ataupun usus atau apa saja yang rasanya pedas. [ dalam hal ini tidak sama dengan masyarakat Jawa].
- Dalam Hal Pakaian:
Rata-rata orang desa dan orang agamis pakai jallabiyyah (jubbah/gamis), sementara orang kota pakai pakaian ala fashion global. Sekarang hanya orang desa yang usianya lebih dari 40 tahun dan orang agamis yang memakai surban atau peci. Generasi baru semakin lama, semakin cenderung tidak melestarikan budaya pakaian tradisional. [ hampir sama dengan masyarakat Jawa dimana pemuda sekarang jarang yang pakai belangkon atau pakaian tradisional lainnya.]
Sarung tidak boleh dipakai oleh lelaki karena menyerupai rok wanita.
Rata-rata orang desa dan orang agamis pakai jallabiyyah (jubbah/gamis), sementara orang kota pakai pakaian ala fashion global. Sekarang hanya orang desa yang usianya lebih dari 40 tahun dan orang agamis yang memakai surban atau peci. Generasi baru semakin lama, semakin cenderung tidak melestarikan budaya pakaian tradisional. [ hampir sama dengan masyarakat Jawa dimana pemuda sekarang jarang yang pakai belangkon atau pakaian tradisional lainnya.]
Sarung tidak boleh dipakai oleh lelaki karena menyerupai rok wanita.
- Dalam Hal Nikah:
Pernikahan harus melalui beberapa langkah, yaitu: restu dari orang tua, melamar, tukar cincin sekaligus pemberian perhiasan mas dan maskwin untuk calon isteri, acara resepsi malam sebelum pernikahan di rumah masing-masing calon mempelai, akad nikah di masjid atau di rumah mempelai putri, acara pernikahan mulai sore samapi sekitar jam 9 malam, tasyakuran nikah pada hari berikutnya dimana tamu-tamu berikan sumbangan berupa uang dan barang-barang. Libur nikah rata-rata dua minggu. Biasanya orang Mesir menjadikan lebaran Idul-Fitri atau Idul-Adha sebagai musim pernikahan. Hari Khamis adalah adalah hari yang diutamakan untuk acara pernikahan. Perlu dikatakan juga bahwa persetujuan orang tua gadis lebih utama daripada persetujuan gadis sendiri.[ dalam hal ini hampir sama dengan budaya Jawa]
Pernikahan harus melalui beberapa langkah, yaitu: restu dari orang tua, melamar, tukar cincin sekaligus pemberian perhiasan mas dan maskwin untuk calon isteri, acara resepsi malam sebelum pernikahan di rumah masing-masing calon mempelai, akad nikah di masjid atau di rumah mempelai putri, acara pernikahan mulai sore samapi sekitar jam 9 malam, tasyakuran nikah pada hari berikutnya dimana tamu-tamu berikan sumbangan berupa uang dan barang-barang. Libur nikah rata-rata dua minggu. Biasanya orang Mesir menjadikan lebaran Idul-Fitri atau Idul-Adha sebagai musim pernikahan. Hari Khamis adalah adalah hari yang diutamakan untuk acara pernikahan. Perlu dikatakan juga bahwa persetujuan orang tua gadis lebih utama daripada persetujuan gadis sendiri.[ dalam hal ini hampir sama dengan budaya Jawa]
- Dalam Hal Kekeluargaan Dan Kemasyarakatan:
Setiap warga harus menjalin tali persaudaraan dengan anggota keluarganya dan masyarakat sekitarnya. Sistem silsilah keluarga menjamin semua anggota keluarga saling kenal dan gotong-royong. Setiap keluarga ada sesepuhnya yang selalu dijadikan panutan dalam perkara-perkara yang memerlukan musyawarah.
Budaya tegur-menegur untuk mencegah perilaku buruk masih sangat kuat terutama di desa. Contohnya, anak sekolah tidak boleh merokok atau pacaran karena takut ditegur oleh masyarakat.
Standar penilaian seseorang adalah: akhlak, pendidikan S1, dan pekerjaan yang layak. Kadang-kadang ada unsur marga, usia dan kekayaan. Standar tersebut diterapkan untuk banyak hal seperti pernikahan, pengurusan masalah keluarga dan keterkemukaan dalam masyarakat. [ dalam hal ini hampir sama dengan budaya Jawa]
Demikian perbandingan yang ringkas antara budaya Mesir dengan budaya Jawa yang fokus utamanya adalah aspek-aspek perbedaan. Adanya unsur yang sama atau hampir sama dengan budaya Indonesia pada umumnya dan budaya Jawa pada khususnya- mungkin karena faktor agama yang sama.